Sarakan Midang: Sarana Mengenali Sjarif Amin (Tokoh Pers/Jurnalistik, Sastra dari Tatar Galuh) dan Ruang Apresiasi Kesenian
Beranda›Berita & Informasi›Sarakan Midang: Sarana Mengenali Sjarif Amin (Tokoh Pers/Jurnalistik, Sastra dari Tatar Galuh) dan Ruang Apresiasi Kesenian

1 Oktober 2026

Sarakan Midang: Sarana Mengenali Sjarif Amin (Tokoh Pers/Jurnalistik, Sastra dari Tatar Galuh) dan Ruang Apresiasi Kesenian

CIAMIS – Yayasan Kawargian Nonoman Galuh dan Pangauban Kawargian Nonoman galuh menyelenggarakan kegiatan literasi, diskusi sastra, dan apresiasi seni budaya bertajuk Sarakan Midang di Bumi Rahayu, Dusun Pasisian, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, pada Sabtu, 26 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara literasi, sejarah, dan kesenian dalam upaya merawat kebudayaan Sunda sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam aktivitas kebudayaan. Acara tersebut menghadirkan tiga rangkaian utama, yakni talkshow literasi sastra Sunda, diskusi pengenalan tokoh melalui program Wanoh ka Tokoh, serta Sarakan Midang atau Gelar Kamonesan Nonoman Galuh yang menampilkan beragam pertunjukan seni dari anggota komunitas maupun seniman di luar komunitas. Mendorong Budaya Membaca melalui Literasi Sastra Sunda Sesi pertama diisi dengan talkshow bersama Rama Prambhudi Dikimara yang dimoderatori oleh Moch. Idwar Fauzan. Diskusi mengangkat tema literasi sastra Sunda dengan menyoroti pentingnya membangun budaya membaca di lingkungan komunitas. Peserta diajak memahami bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kebiasaan mengakses, memahami, serta mendiskusikan berbagai bacaan secara berkelanjutan. Dalam diskusi tersebut, salah satu hal yang mendapat perhatian adalah pentingnya membangun pola membaca secara kolektif melalui kelompok baca, diskusi buku, dan pertukaran gagasan antarpeserta. Melalui forum ini, literasi sastra Sunda diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas individual, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan komunitas dan generasi muda. Mengenal Sjarif Amin melalui Program Wanoh ka Tokoh Pada sesi kedua, program Wanoh ka Tokoh mengangkat riwayat hidup Sjarif Amin, sastrawan Sunda asal Ciamis yang juga dikenal sebagai salah satu perintis pers nasional. Diskusi menghadirkan Atep Kurnia sebagai pemateri dan dimoderatori oleh Eggy Aditiar. Pembahasan difokuskan pada perjalanan hidup, kiprah kesusastraan, serta kontribusi Sjarif Amin dalam dunia pers dan kebudayaan. Pemilihan tokoh ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kembali sosok-sosok asal Ciamis yang memiliki peran penting dalam perkembangan sastra Sunda maupun sejarah pers Indonesia. Melalui sesi ini, peserta diajak mengenal Sjarif Amin tidak hanya sebagai seorang sastrawan, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan literasi dan jurnalisme di Indonesia. Program Wanoh ka Tokoh sekaligus menjadi ruang untuk menggali kembali warisan intelektual dan kebudayaan yang lahir dari daerah. Sarakan Midang, Ruang Ekspresi Seni dan Budaya Setelah dua sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan Sarakan Midang atau Gelar Kamonesan Nonoman Galuh. Sesi ini menjadi wadah apresiasi bagi anggota komunitas maupun seniman dari luar komunitas untuk menampilkan karya dan keterampilan mereka di bidang seni budaya. Beragam pertunjukan turut memeriahkan acara, mulai dari tari, musik tradisional, pembacaan sajak, hingga pemutaran film. Sintiya membuka sesi pertunjukan melalui penampilan tari. Selanjutnya, Ade Halimun bersama Satria dan rekan-rekan menghadirkan pertunjukan calung yang memperkenalkan kekayaan musik tradisional Sunda. Nuansa sastra semakin terasa melalui pembacaan sajak oleh Wini Fitriani yang menghadirkan ekspresi puisi dalam suasana yang hangat dan akrab. Kegiatan juga diramaikan dengan pemutaran film-film produksi Forum Komunitas Film Ciamis sebagai bagian dari upaya memperluas apresiasi terhadap karya audiovisual sekaligus mempertemukan seni film dengan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Rangkaian acara ditutup dengan penampilan musik sape oleh Tendi Nugraha, Ketua Yayasan Kawargian Nonoman Galuh. Berbagai penampilan tersebut menunjukkan bahwa ruang kebudayaan dapat menjadi tempat bertemunya beragam bentuk ekspresi seni, baik yang berakar pada tradisi maupun yang tumbuh melalui kreativitas generasi muda. Melanjutkan Ruang Literasi dan Kebudayaan di Ciamis Kegiatan di Bumi Rahayu, Tambaksari, merupakan bagian dari rangkaian aktivitas kebudayaan yang sebelumnya juga pernah dilaksanakan oleh Nonoman Galuh di Situs Samida, Rajadesa. Pada kesempatan kali ini, pembahasan mengenai Sjarif Amin menjadi salah satu kekhasan yang memperkaya rangkaian acara. Melalui program Wanoh ka Tokoh, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat riwayat tokoh sastra dan pers asal Ciamis tersebut. Perpaduan antara diskusi literasi, pengenalan tokoh, dan pertunjukan seni menjadi upaya untuk menghubungkan pengetahuan sejarah dengan praktik kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, Nonoman Galuh berharap ruang-ruang pertemuan berbasis literasi dan kebudayaan dapat terus berkembang di berbagai wilayah Ciamis. Dengan melibatkan komunitas, seniman, dan masyarakat, kegiatan semacam ini diharapkan mampu memperkuat kecintaan terhadap sastra Sunda, mengenalkan kembali tokoh-tokoh daerah, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya dan berpartisipasi dalam pelestarian kebudayaan.

Bagikan
← Kembali ke Berita