Pada zaman dahulu kala di Tatar Galuh terdapat kerajaan kecil bernama Kerajaan Ciancang, hiduplah seorang panglima besar yang gagah perkasa dan bernama “Dalem Dipakusumah”. Raja juga sering menyebutnya dengan panggilan Senopati Dipakusumah. Beliau adalah Senopati yang patuh, jujur dan bersahaja kepada rajanya. Suatu hari Senopati Dipakusumah ditugaskan raja untuk memimpin perang melawan Kerajaan Mataram yang berusaha merebut kekuasaan Galuh. Perang itu disebut dengan “Bedah Ciancangi”. Lokasi perang di dataran Cibereum Desa Utama atau pusat Kerajaan Ciancang. Disini pasukan Ciancang mengalami kekalahan karna pasukan Mataram lebih banyak dan lebih kuat.
Atas perintah Raja, Dipakusumah pergi mengasingkan diri bersama kedua pengawal setianya yang bernama Sabda Gati dan Sabda Manggala menghindari kejaran para musuh. Agar tidak terus dikejar mereka memutuskan untuk menyebrangi sungai besar bernama Sungai Cimuntur. Namun kedua pengawal setianya meninggal sebelum menyebrangi sungai Cimuntur, dan dimakamkan langsung disana, kini wilayah itu dikenal dengan Cicau. Ia lalu tiba di suatu perkampungan bernama Bojong Lengo Desa Parigi. Setelah tiba dan bermukim di desa itu Dipakusumah merubah penampilan kerajaannya menjadi warga biasa.
Dipakusumah sering melakukan tapa (diam dan memfokuskan diri) dengan tujuan untuk membersihkan hati, menenangkan diri, dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ia bertapa disebuah bukit dekat sungai Cimuntur. Hingga beliau wafat dan dimakamkan disana, tempat beliau wafat dikenal dengan Patapan (Pertapaan).
Lama waktu berlalu kerajaan kembali tenang dan damai. Kabar meninggalnya senopati terdengar ke Kerajaan Ciancang, Kerajaan Galuh bahkan terdengar oleh Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran. Kabar tersebut sangat mengejutkan karena waktu itu ada utusan kerajaan Galuh untuk mencari senopati yang sempat dikabarkan hilang. Setelah mendengar kabar meninggalnya Dipakusumah, Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Dewi Naganingrum berziarah bersama prajuritnya ke makam Sang Senopati. Untuk mengenang nama Dalem Dipakusumah masyarakat setempat membuat jalan dengan bernama jalan “DIPAKUSUMAH” sampai sekarang merupakan jalan protokol yang berada di Desa Ciparigi.Di area pemakaman tersebut penduduk sekitar menyebut “Patapan” diambil dari kata pertapaan yang suka beliau lakukan pada waktu itu. Tidak jauh dari area makam terdapat tempat solat dan tempat bertapanya Dipakusumah yang diberi nama “Pangsalatan” yaitu batu berukuran besar berbentuk seperti sajadah besar.Sekitar 3 meter dari arah Barat Laut makam terdapat peninggalan yang dinamakan ‘Gudang” yaitu tempat penyimpanan senjata musuh yang beliau kubur.

Penulis: Agam Abdillah Pratama (SDN 1 Ciparigi)


